Skip to main content

Posts

Mengenal Boli: Pohon Penangkal Petir dan Ramuan obat di Nias

      Pulau Nias tumbuh beragam macam jenis pepohonan yang digunakan dalam banyak keperluan. Ada untuk keperluan obat-obatan, pembuatan perahu atau kapal tradisional, hingga keperluan membangun rumah. Salah satunya boli , salah satu pohon yang terkenal di Nias. Pohon ini bisa tumbuh dimana saja, baik di pekarangan rumah, kebun warga, hingga tanah tanpa pemilik. Boli dalam kehidupan masyarakat Nias sangat erat kaitan dalam kontruksi bangunan rumah dan obat-obatan tradisonal. Boli (  Oroxylum indicum) atau pohon lanang atau bunglo        Boli  di daerah lain disebut pohon bungle atau lanang memiliki nama latin  Oroxylum indicum  tumbuh di daerah tropis. Selain itu pohon ini bisa ditemui di dataran Sumatera hingga Jawa. Tinggi pohon tersebut di Pulau Nias dapat mencapai 8-12 meter dengan diameter 25 cm. Batang pohon tegak berkayu sementara daun majemuk berbentuk lonjong. Bunga  boli  majemuk dengan kelopak berbentuk tabung dan mahkota bunga berbentuk terompet. Kotak buah lonjong dan ber
Recent posts

Bunker Nifo, Hili Adulo, dan Saksi Jepang di Nias

     Bunker nifo (ejaan Nippon = Jepang, dalam Bahasa Nias) merupakan tempat pertahanan yang dibangun oleh Pemerintahan Jepang masa Perang Dunia Kedua di blok Pasifik tahun 1942-1945. Setiap daerah yang telah diduduki oleh tentara Nifo pada masa perang, akan dibangun blok-blok pertahanan untuk menghadapi tentara musuh yang datang atau pemberontak daerah tersebut. Di Pulau Nias terdapat berbagai sisa peninggalan pendudukan Jepang, baik berbentuk benda maupun bangunan, salah satunya bunker nifo di Hili Adulo. Bunker Nifo di Puncak Bukit Adulo       Hili Adulo berada di daerah Gunungsitoli. Hili Adulo adalah sebuah bukit kecil yang berada di antara Desa Iraonogeba dan Kelurahan Saombo. Dalam Bahasa Nias, Hili Adulo berarti bukit telur.  Penulis berkesempatan melihat lebih dekat bunker Nifo di Hili Adulo dengan mengayuh bersepeda.         Penulis bersama seorang teman menuju bunker Nifo di Hili Adulo. Dari Lapangan Merdeka, penulis mengayuh sepeda kearah pertigaan Kantor Kelurahan Sa

Pandemi, Idul Fitri, dan Idul Adha di Nias

      Idul fitri dan idul adha merupakan hari raya bagi pemeluk agama islam. Tanpa terkecuali di di semua tempat, termaksud pulau nias. Perayaan ini selalu meriah dan diisi rasa antusias, walau tidak selamanya mereka penganut agama yang taat. Namun ada yang berbeda dari malam-malam di tahun 2020 saat pandemi covid-19 ( corona virus disaster -19) melanda. Berikut ini adalah tulisan sudut pandang penulis yang kebetulan bertempat tinggal di Pulau Nias. Pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermo gun menjelang shalat Ied        Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah/ 2020 Masehi telah usai, namun catatan di ingatan masih lengkap jelas. Pasca pencabutan surat edaran tentang beribadah di rumah masing-masing, berdasarkan rapat dengar pendapat Forum Komunikasi Daerah (Forkada) dan pemimpin agama Se-Kepulauan Nias. Keputusan tersebut mangacu kepada Keputusan Menteri no 440-830 Tahun 2020.        Dalam hasil rapat tersebut berbuah beberapa kesepakatan. Salah satunya ibadah ritual keagamaan bisa dilak

Pendemi, New Normal, dan Adaptasi di Kepulauan Nias

      Pandemi yang berawal dari dataran Tiongkok akhir tahun lalu sampai terbawa ke Nias. covid-19 ( corona virus disaster-19) mengubah banyak hal, mulai dari sikap, kepedulian, hingga anggaran sebuah negara. Akfifitas sosial budaya saat pendemi dan new normal menjadi hal baru yang sebagian besar orang di Kepulauan Nias rasakan. Hal baru tersebut tertulis di beberapa catatan yang penulis rasakan sebagai warga Nias.       Rasa rasa khawatir tentang kejadian flu Spanyol awal dekade 20-an atau black date abad ke 17 menjadi cacatan trauma mendalam. Saat ini new normal adaptasi   di pandemi covid-19 mengubah sikap,  lifestyle orang-orang, tak terkecuali di Nias. Berbagai kebijakan protokol kesehatan sangat diutamakan, meski kenyataan dilapangan banyak yang dilanggar.  Ipmawati (kader putri Muhammadiyah) di Gunungsitoli berfoto sejenak setelah sepeda bersama       Pasca bulan Maret tahun 2020 ditetapkan kasus pertama positif covid-19 di Indonesia, sosial budaya masyarakat Indonesia berub

Bowo dan Hoe, Buah Lokal Nias Tak Dikenal

      Buah-buah di Pulau Nias begitu beragam seperti durian, pisang, duku, dan kuini. Buah-buahan tersebut sangat enak dan disukai banyak orang. Bahkan buah durian dari Nias menjadi icon dan dibuatkan tugu sebagai penegasan nilai penting buah tersebut. Namun masih banyak buah lokal di Nias seolah terlupakan sehingga hanya sebagian orang yang tahu. Beberapa buah tersebut adalah bowo dan hoe, buah lokal yang tidak dikenal di Nias. Buah Hoe (sebelah kiri) dan Bowo       Buah bowo merupakan salah satu buah lokal yang tumbuh di Nias.  Bahasa Indonesia buah ini disebut buah menteng ( Baccaurea racemose ). Dalam masyarakat Nias, selain buah bisa dimakan, batang pohon ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan perahu. Konon di Nias, tepatnya di daerah Maniomolo, yang sekarang masuk daerah Nias Selatan diatas pohon bowo mudah ditemukan sarang anowo (burung rajawali). Buah bowo sangat disukai oleh binatang seperti burung-burung.       Bowö , merupakan sebutan adat untuk jujuran di pulau